Kamis, 18 Februari 2010

SEBESAR KASIR sekecil kita

Gak tau kenapa, tiba-tiba aja gue pengen nulis cerita kecil ini.
Bukan cerita yang terlalu istimewa memang, cuma sekedar menceritakan ulang sekilas pengalaman yang biasa, bahkan mungkin tanpa rasa.
Biasanya gue gak terlalu peduli kalo belanja di supermarket, swalayan, hypermart atau sejenisnya. Sesampainya di tempat pembayaran, seangkuh itu juga gue keluarin dompet, uang, kartu kredit atau kartu debit buat melunasi angka-angka yang tertera di layar dari perhitungan si kasir.
Tapi hari ini, ditemenin ibu, gue gak sedikitpun mengambil dompet dan lembaran uang di dalamnya. Ibu menanggung semua beban belanja yang kami beli buat acara agustusan di lingkungan kampung kami.
Di meja kasir itu, gue Cuma berdiri melihat si kasir menghitung belanjaan, sesekali melihat kasir yang lain, yang dengan serius, bahkan sedikit tegang memasukkan angka-angka pembelian barang-barang. Sesekali mas kasir di depan gue, melap keringatnya yang entah kenapa, bercucuran di dahinya.
Hari ini memang cuaca sangat panas, malam hari sekalipun. Dan keringat si kasir itu membawa bayangan gue melayang jauh, memasuki mas kasir yang kurus kecil, berseragam hitam putih dengan potongan serius menghitung jumlah belanjaan.
Apa jadinya kalo gue yang ada di posisinya ?
Menghadapi puluhan bahkan ratusan orang yang hilir mudik belanja, menghabiskan ratusan bahkan jutaan rupiah hanya sekali belanja.
Sesekali pikiran ini menyentil, berapa ya gajinya mas kasir ini sebulan?.
Apa rasanya setiap hari, setiap waktu berjibaku dengan rupiah yang dibelanjakan di depan matanya. Yang bahkan mungkin nominalnya lebih dari jumlah gaji si kasir sebulan.
Apa tak ada rasa iri?.
Atau jangan-jangan si mas kasir ini udah mati rasa.
Uang yang masuk di kotak hitung kasir memang sejatinya bukan uangnya. Tapi apa rasanya ya? Apa si mas kasir ni gak punya bayangan untuk belanja sebanyak kereta dorong penuh susu, indomie, chiki, roti, keju,selai dan makanan mahal lain.
Apa si mas kasir ini gak punya rasa dengki, melihat ratusan lembar uang ratusan ribu hanya hinggap di depan matanya?
Keringatnya memang masih belum berhenti mengalir, pendingin ruangan di pusat belanja itu tak mampu menghentikan laju ratusan kepala manusia yang bernafsu memborong semua barang.
Atau jangan-jangan, dalam hidup ini mestinya kita semua hanya jadi kasir.
Tempat untuk berhenti sejenak, menghitung materi yang sejatinya bukan punya kita. Hanya menghitungnya, memberikan nilainya dan pergi begitu saja.
Mas kasir itu tetap berdiri di tempatnya.
Sambil sesekali menyeka bulir keringatnya, mengulangi hitungannya, memberikan sapa dan menutupnya.
Terimakasih telah berbelanja… sampai bertemu kembali.

Malem tujuhbelasan
Hampir masuk Ramadhan


Selasa, 16 Februari 2010

mari pajaki PSK

Saya bukan pengguna PSK. 

Sumpah deh, seumur jagung usia saya, belum pernah sekalipun pake PSK. Kalaupun maen ke tempat "gitu-gitu" emang pernah. Sekali dalam hidup saya, itupun diajak temen-temen satu mess dulu, yang butek dan pengen cari hiburan di tempat "begitu".

Sampe di tempat itupun, saya cuma diam. Boro-boro mau pake PSK, lha wong minum-minuman beralkohol aja gak berani.

Akhirnya, di tempat "begituan" terpencil di ujung selatan daerah Banten sana, saya cuma duduk meringkuk sambil menghabiskan bergelas-gelas kratingdaeng dingin, satu-satunya minuman tak beralkohol yang dijual. Sambil mengumpati diri sendiri kenapa ikut-ikutan solider sampai ke tempat ini.

Bukannya sok suci, tapi emang duit di dompet cuma tinggal beberapa lembar uang ribuan, walaupun manager lapangan saya yang ikutan meramaikan kegiatan ini sesumbar untuk membayar semua tagihan.

Lagipula sebagai anak Jakarta, melihat wajah yang "dijual" disana tidak cukup untuk mengundang selera. Ditambah takut dosa sama takut dipenjara kalo kena grebek sama satpol PP.

Kehidupan para Pekerja Seks Komersial atau PSK memang serba salah.

Secara agama, norma dan susila, jelas para PSK tersebut tak bakal mendapat tempat di sisi-Nya, lha emang siapa yang meninggal?.

Tapi anehnya, di Batam sana, sayup-sayup terdengar rancangan peraturan untuk mengenakan pajak untuk para PSK.

Kontan teman-teman saya di kantor yang sekarang, berteriak lantang, waahh... pengeluaran bakalan nambah dong..!

Padahal jelas-jelas itu baru rancangan peraturan, yang belum tentu jadi. Walaupun sudah dirancang, juga belum tentu bakalan diterima. Kalaupun diterima, belum tentu mudah dilaksanakan.

Lha bagaimana cara mem-pajak-i PSK?

"Banyak jalan menuju nganu..", kata teman kantor saya yang jenis kelaminnya jadi-jadian.

Apa yang bakal dipajaki dari para PSK ini? Apakah "penghasilan"nya?  dan termasuk dalam pajak apa? Pajak penghasilan? pajak "makanan"? atau pajak "layanan"?.

Terus, pajaknya akan dibayar dalam bentuk apa? uang? atau "service" lebih mungkin? atau mungkin bisa langsung "dipungut" melalui para pegawai kantor pajak kepada "wajib pajak" yang notabene PSK? wah kalo yang terakhir bisa, yummy banget dong.

Sengaja saya kasih tanda kutip buat menegaskan kalo ini membingungkan. Sungguh, sampai blog ini diturunkan saya juga masih bingung dan berpikir kotor, eh maksudnya berpikir kurang jernih.

Padahal jelas-jelas pekerjaan mereka tidak pernah pakai properti milik negara. Kalaupun ada, faktanya justru para pegawai negara banyak yang memakai "propertinya" PSK.. hehe.

Lantas, Apa iya para PSK ini bakal disuruh bikin NPWP, seperti para pekerja lainnya. Yang setiap tahun mengisi SPT tahunan sebagai bagian dari kewajiban warga negara yang patuh dan berbudi luhur.

Berapa penghasilan harian mereka, eh maksudnya berapa tamu yang hadir, berapa akumulasi penghasilan tahunan dan berapa penghasilan tidak kena pajak dan berapa yang bakal dipajaki.

Wah ini pasti menarik. 

Kalau ini dijalankan saya yakin dampaknya akan sangat luar biasa. Negara bakal diuntungkan, karena sebagian besar properti yang digunakan para "wajib pajak" ini pasti punya pribadi, bisa dipakai berulang-ulang bahkan, dan uang yang dihasilkan sebagian mestinya masuk ke kas negara.

Dan di sisi lain, ini juga membuktikan kalo semua warga negara punya hak dan tanggung jawab yang sama. Apapun sukunya, agamanya, profesinya, posisi yang dimainkan eh maksudnya posisi di dalam perusahaan semua sama dalam kewajiban membayar pajak.

Toh ini juga bisa jadi bukti penting peran strategis dari para PSK yang selama ini sering dipandang sebelah mata.

Paling tidak, kalau profesi mereka dikenakan pajak, bisa jadi salah satu sumbangsih nyata dari para PSK untuk turut serta dalam pembangunan bangsa dan negara dari hasil tetesan keringetan eh, keringatnya.

Lunasi pajaknya, awasi pengguna (PSK) nya.

MERDEKA!

Ohhhhh yessss...

Ohhhhhh Nooooooo....

 

Senin, 15 Februari 2010

surganya gerobaknya

Gerobak itu rumahnya.

Seorang bapak tua dengan anaknya yang masih usia sekolah berjalan lantang mengelilingi rumah-rumah besar nan angkuh di Menteng sana.

Dia, sang kepala keluarga yang tak punya tempat singggah terpaksa memanfaatkan rimbunnya daun-daun di sekitaran Taman Suropati dan Kedubes Amerika hanya sekedar mencari nafas dan melupakan peluhnya.

Dunia memang punya ceritanya sendiri. Rumah-rumah tua nan angkuh hanya jadi saksi bisu para, maaf, gelandangan, yang hidup sepanjang jalanan jakarta.

Hari ini, sang bapak dan kedua anaknya yang masih berusia sekolah menyusuri rezeki di tempat dimana limbahan manusia terhormat melupakan apa yang telah mereka pakai atau makan.

Tak terbayang sehat, higienis atau bersih. 

Kata-kata itu mungkin juga tak pernah singgap di pikiran sang bapak. Anaknya yang beranjak dewasa mungkin hanya tahu bagaimana supaya mereka bisa bermain dan perutnya terisi.

Saya masih tak habis pikir bagaimana menikmati hidup dalam kotak kecil beroda dua, ditutup terpal dengan beberapa nyawa di dalamnya.

Padahal rumah 350 juta yang akan saya tempati pun masih juga dirasa banyak kekurangannya.

Aaaahh..., dunia memang selalu punya cerita.

Salut buat bapak dengan keluarga gerobaknya.

Semoga kotak lusuh dan terpal bekas itu nanti jadi saksi, bahwa seorang ayah telah menafkahi keluarganya dengan keringatnya sendiri, dengan kebersamaan keluarga yang begitu mereka nikmati.

rumahku surgaku....eh, ini untuk saya yang punya rumah harganya ratusan juta.

Gerobak si bapak sepertinya jauh lebih pantas untuk dibawa ke dalam Surga.

habis imlek tahun macan logam

malam hari

 

menikmati hidup

Kalaupun ada yang bilang hidup itu gampang, mungkin perlu dipikirin lagi.

Di depan Pasaraya Manggarai, setiap pagi ceria, ada ibu-ibu tua dengan selendang lusuhnya memohon kesediaan pengendara yang berhenti di lampu merah untuk sekedar berbagi rupiah.

Sempet kepikiran dimana keluarganya?. Apa gak kasian liat ibunya, eyang putrinya atau siapalah, hidup dari kerasnya jalan Jakarta?.

Kemiskinan kota emang masalah yang gak pernah selesai. 

Perempatan fly over Rawamangun juga jadi saksi bisu puluhan anak usia sekolah yang ngumpul dan menggantungkan hidupnya dari uluran rupiah pengendara. Bahkan tengah malem pun, mereka masih juga terjaga dan meminta.

Buat gue, pengendara motor yang tiap hari ngabisin waktu 3 jam buat PP rumah-kantor, kondisi para penghuni jalanan ini kadang bikin risih. Tapi kadang ngeliat mereka di jalanan juga bisa bikin tambah menikmati hidup.

Lha wong mereka yang hidup di jalan aja masih bisa ketawa dan bahagia?, masak kita yang sempurna, punya kehidupan "lebih baik", punya kendaraan baru, punya istri cantik, punya gaji lebih tinggi masih gak bisa menikmati hidup.

jadi inget kalimat bagus dari kaskus:

Kalau kita sering makan di restoran mewah, sekali-kali makanlah di warung kecil terminal.

Kalau kita sering pergi dengan mobil mewah, sekali-kalilah pergi pake angkot atau bajaj

Kalau kita sering belanja di mall megah, sekali-kali belanjalah di pasar kecil

Kalau kita sering berpesta-pora, sekali kalilah datang ke kotak amal masjid

Kalau kita punya pendidikan S3, sekali kalilah kunjungi sekolah luar biasa

Kalau kita punya keluarga kaya raya dan sempurna, sekali-kalilah datang ke panti asuhan

Kalaupun semuanya kita lakukan, bukan untuk menunjukkan kalau kita peduli.

tapi lebih sekedar untuk melembutkan hati.

masih di bej twr.21

04.52

 

Sabtu, 13 Februari 2010

tentang singkong kami

Kami lima bersaudara. Saya anak kedua, dengan kakak laki-laki dan adik perempuan 2 orang dan sisanya laki-laki. Dalam sebuah keluarga yang sederhana kami bertahan hidup dan menjalani keseharian kami.
Keluarga kami hidup dengan sederhana. Ayah kami “terpaksa” mendapatkan pensiun dini di usianya yang masih terbilang muda, sekitar 42 tahun. Kantornya, tempat kami semua bergantung, dibeli penguasa cendana dan mengharuskan kami untuk pindah rumah dan memulai kehidupan baru. 
Dengan lima orang anak yang semuanya tumbuh besar dan butuh sekolah, tentunya orang tua kami harus berpikir keras bagaimana mewujudkan semuanya. Awalnya kami shock, bukan hanya karena rumah kami mendadak sangat jauh dari sekolah, tapi juga mendadak semua berubah, termasuk melihat ayah yang kehilangan pekerjaan.
Ayah memutuskan untuk menggunakan uang pesangon dari kantornya untuk membangun rumah. Sebelum kami lahir, Ayah punya tabungan berupa tanah sekitar empat ratus meter persegi. 
Letaknya?
Jangan ditanya. Jangankan untuk menginap, untuk sesekali menengok pun, kadang kami malas sekali. Tapi Ayah dan Ibu berkeras untuk meneruskan pembangunan rumah kami, yang memang sedikit demi sedikit akhirnya jadi juga.
Orangtua kami memutuskan untuk menempati rumah yang baru, daripada ngontrak rumah, malah duitnya abis gak tau kemana.., begitu kata Ibu.
Statusnya memang rumah baru. Karena baru kali itu kami tempati. 
Apa sudah jadi?? 
Ahhh…Jangan Tanya.
Separuh jadi pun tidak. Kata ayah, yang penting sudah ada gentengnya, paling gak kalo hujan kita gak kehujanan dan kedinginan.
Baiklah kami menyerah. Waktu itu malam tahun baru tahun 1992. Dan Saya masih kelas empat SD.
Kalaupun mau berontak, trus mau tidur dimana, lha wong rumah lama kami sudah dihancurkan saat kami pulang dari sekolah.
Di rumah kami yang baru ini, kami menghabiskan hari-hari.
Waktu berjalan cepat sekali. 
Ayah masih belum mendapat pekerjaan yang tetap, kalau dibayangkan bagaimana kami bisa hidup,kalo Ayah tidak punya gaji?.
Tapi toh kami tetap hidup dengan prinsip apa adanya.
Rumah kami cukup besar. Tanahnya juga lapang. Dari kecil kami diajarkan untuk menanam banyak tanaman di halaman depan dan belakang.
Di halaman depan rumah, ayah sengaja menanam banyak pohon singkong. Dan setiap sore kami bertugas menyiram semua tanamannya.
Kenapa singkong?
Ayah bilang biar cepet diambil hasilnya. Lumayan kalo ada yang mau beli juga bisa dijual. 
Benar saja, mungkin karena tanah di sekitar rumah kami subur, makanya pohon singkong di depan rumah kami cepat tumbuh dan tentu saja, menyembunyikan singkong di bagian bawahnya.
Singkong ini benar-benar membawa berkah. Kalau pulang sekolah, kami hanya sempat makan siang, tanpa tambahan snack atau makanan kecil lainnya.
Kalau kondisinya sudah seperti ini, perut yang bicara. Kami sering konsolidasi dengan adik-adik terutama yang laki-laki, kita ngambil singkong yuk??.
Sebagai kakak, Saya tahu kalau adik-adik juga sering lapar kalau sore. Mau jajan pun, kami tak tega minta uang ke orang tua. Sudahlah gak apa apa.
Kalau hari sudah menjelang sore, kami ambil alat seadanya, ember dan gayung. Pelan-pela kami gali bagian bawah pohon singkongnya. Satu persatu kami cabut singkongnya, apalagi kalau sudah besar, ujung pohung atau singkong pasti ada yang sedikit mencuat keluar.
Tapi kami harus menjaga supaya pohonnya tetap hidup dan tegak berdiri, kalau tidak bisa habis kami dimarahi Ayah.
Kami hanya mengambil secukupnya. Yang penting bisa untuk kami makan berlima. Kebetulan Saya bukan orang yang senang tidur siang, walaupun sudah disuruh tidurpun, saya tetap ngeyel untuk bangun dan kadang jalan-jalan.
Nah karena keseringan main inilah, makanya kalau menjelang sore kelaparan itu sering melanda. 
Ahhh…beberapa biji bonggol singkong cukup nikmat untuk sekedar dibakar atau digoreng. Adik-adik sayapun ikut mengamini.
Kami bagi-bagi tugas. Saya mencabut dan merapikan tanah bekas galian singkong. Adik-adik mencuci dan merendamnya dengan air garam. Hanya air garam bumbu yang kami pakai. Yang penting rasanya gak hambar. Itu saja.
Saya bertugas untuk menggoreng dan mengolahnya sampai matang. Adik-adik tentunya sudah menunggu sambil nonton tivi. 
Kalau singkong itu matang, tak terbayang bagaimana raut muka mereka. Mungkin juga lapar Karena pulang sekolah. Tapi yang pasti Saya melihat kebahagiaan di mata mereka, walaupun hanya sekedar sepiring singkong goreng sederhana.
Kenangan singkong ini yang membuat saya bertahan untuk tetap sekolah dan mencapai impian juga cita-cita, menjadi insinyur, kerja di tempat yang bagus, punya uang banyak supaya bisa bantu biaya sekolahnya adik-adik.
Singkong di halaman depan rumah kami menjadikan kami pribadi yang kuat. Tak peduli kalau batangnya hanya berukuran beberapa senti tapi akarnya bisa sangat besar menunjam dan untungnya, bisa dimakan.
Hari ini, kangen rasanya melihat singkong itu terus tumbuh.
Sayang, pohonnya sudah dipotong dan halamannya sudah dibangun sebuah toko kecil milik kami.
Kenangan singkong membuat saya terus punya tekad untuk mewujudkan mimpi, menyekolahkan adik-adik, sampai mereka sarjana.
Rasanya, setiap awal bulan saya kirimkan sejumlah uang untuk hidup mereka, terbayang raut wajah mereka yang sangat bahagia, sama halnya ketika menunggu sepiring singkong goreng tersaji di depan meja.
Dulu Sekali.  

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  Malam wikend
                                                                                                                                                                                                                                                     Sambil tetap menunggunya online



Jumat, 12 Februari 2010

the singkong bugs

Waktu itu bulan puasa. Saya ingat sekitar akhir tahun sembilan puluhan mendekati tahun dua ribu. Dan saya masih duduk di bangku SMU.
Medio 1998, Jakarta rusuh, mahasiswa demo, sembako sulit didapat.
Kehidupan keluarga kami masih tetap seperti biasa. Namun, ditambah krisis ekonomi yang mendera, keuangan keluarga sepertinya sangat terkena dampaknya.
Lebaran hanya tinggal menghitung hari. Tapi buat saya pribadi, lebaran tak ubahnya seperti perayaan liburan biasa. Tak ada baju baru, tak ada sarung baru tak ada yang special untuk merayakan lebaran.
Semenjak kami pindah rumah dan Ayah kehilangan pekerjaannya, Saya mulai membiasakan diri untuk tidak banyak meminta. Termasuk meminta pakaian baru untuk lebaran.
Waktu itu bulan Ramadhan. Bulan seribu bulan. 
Tapi ada yang berbeda pada bulan itu. Ayah masih percaya kalau Ramadhan adalah bulan berkah. Bulan dimana rezeki dilancarkan.
Walaupun dalam hati saya masih bertanya, kalau ini bulan rezeki dilancarkan kenapa sahur sama buka, lauknya masih sama ya?. Itu –itu lagi, lauk sahur dipanaskan untuk buka puasa, dan kalau masih ada dipanaskan lagi untuk sahur.
Tak ada yang berbeda dalam keseharian kami, meskipun bulan Ramadhan yang katanya lebih baik dari seribu bulan. Beberapa kali saya membatalkan untuk berangkat ke sekolah, hanya karena persoalan sepele, Ayah dan Ibu tak punya uang untuk ongkos kami ke sekolah.
Sedih?
Tidak.
Saya justru senang tidak berangkat ke sekolah. 
Toh buat apa memaksa orangtua mencari uang hanya sekedar dibuang-buang untuk ongkos ke sekolah. Lagian juga pelajaran yang didapat masih bisa dipelajari di rumah. 
Itu pikir Saya.
Bulan itu kami benar-benar diuji. Kami mencoba untuk tak mengeluh dengan kondisi yang sangat pas-pasan. 
Hanya saja adik-adik sudah bercerita kalau teman-temannya sudah siap dengan baju baru untuk lebaran. Ahh..bagaimana menerangkannya kalau Lebaran tak mesti pakai baju baru.
Ayah dan ibu jago memasak.
Itu yang membuat kami bangga. Tak perlu keluar banyak uang untuk membeli makanan jadi, cukup beli bahan mentahnya, dan hasilnya bisa kami nikmati, enak sekali.
Hari itu, satu hari di bulan puasa. Medio Ramadhan.
Kondisi keuangan keluarga kami tak menentu. Beberapa kali saya membatalkan berangkat ke sekolah, karena Ayah dan Ibu tak punya uang.
Saya bertanya, sangunya dikasih pas aja, yang penting bisa ke sekolah sama pulang. 
Ada uang gak?
Jawabnya tetap saja, tidak ada.
Sejak Ayah kehilangan pekerjaannya, saya mulai sensitif dengan kondisi keluarga. Sebagai kakak, Saya mesti lebih pengertian dan ngalah dengan adik-adik yang masih kecil.
Termasuk hari itu, satu hari di bulan Ramadhan.
Orang tua kami hanya punya pegangan uang sedikit sekali. Padahal waktu itu, ada tujuh nyawa manusia yang mesti dinafkahi dan dipenuhi kebutuhannya untuk buka dan sahur.
Ayah dengan tenangnya mengambil sejenis arit untuk menebas daun singkong di halaman depan rumah. Kebetulan pohon singkong tumbuh dengan cepat dan lebat. Sayang kalau gak dimanfaatkan, begitu kata Ayah.
Walaupun saya tau, itu hanya satu apologi, bahwa buka puasa sore ini tidak ada makanan yang bisa dimakan kecuali nasi putih dan teh hangat pengantar berbuka.
Dengan sigap, Ayah menebas banyak-banyak daun singkong untuk kemudian di rebus dan dimasak sayur dengan bumbu kuning atau bumbu padang, atau apalah, saya tak tahu namanya.
Dan hari itu, sayur daun singkong adalah menu utama kami, tanpa lauk, hanya dengan nasi putih.
Waktu berbuka datang, tak ada penganan kecil, hanya ada teh hangat dan menu utamanya, sayur daun singkong.
Ayah segera mengambil nasi dan sayurnya, lantas memakannya dengan lahap. Walaupun saya tahu, hati Ayah sebenarnya tak tega melihat kondisi keluarganya.
Kami tak berani berkomentar, apalagi bertanya kok gak ada lauk lainnya?.
Sejak lama kami diajarkan untuk hidup menerima dan apa adanya.
Termasuk hari itu, satu hari di bulan Ramadhan, bulan seribu bulan.
Kami memakannya dengan lahap.
Tak terkecuali saya yang selalu mengambil makan paling belakangan, dibanding dengan saudara-saudara yang lain.
Rasa lapar yang tak tertahan memaksa saya untuk mengambil banyak-banyak sayur daun singkong yang, hari itu makanan paling enak yang pernah kami makan.
Di tengah kelahapan itu, muncul sesuatu yang tak diduga, ada sejenis binatang yang rupanya ikut termasak bersama daun singkong yang sudah menjadi sayur.
Upssssttt…
Hati ini rasanya mau teriak, Hai Tuhan, inikah yang Kau berikan untuk bulan berkah dan bulan seribu bulan ??.
Sejenis serangga seperti binatang pengerat itu mati bersama panasnya sayur singkong yang saat itu, menjadi hidangan utama, buka puasa kami.
Ingin rasanya bilang ke Ayah dan Ibu, ini ada binatangnya di sayur.
Tapi Saya buang jauh-jauh niat itu.
Suasana akan semakin buruk kalau saya umumkan ke yang lain.
Baiklah, Saya diam.
Saya singkirkan binatangnya, saya coba cari lagi, siapa tahu masih ada yang tersangkut di dalam sayur, ternyata sudah bersih. 
Entah kalau ada saudara saya yang mengalami nasib yang sama, tapi memutuskan untuk tetap diam.
Saya lanjutkan makan dengan lauk paling nikmat malam itu.
Dan sayur daun singkong istimewa itu, tetap tersimpan dalam memori Saya,dalam-dalam.
Waktu itu bulan Ramadhan.
Bulan yang lebih baik dari seribu bulan.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Medio 2009
                                                                                                                                                                                                        Baru saja menerima kenaikan gaji yang kesekian kali..



nggampangke

Ini sifatku yang dari dulu, mungkin dari kecil, tak pernah hilang.
Nggampangke atau menggampangkan..
Semua masalah aku buat mudah, bahkan kadang orang-orang di dekatku sering dibuat sebal melihat polah tingkahku yang sudah punya dua ponakan ini tak juga berubah.
Berkali-kali ibu menyuruhku membuat SIM, baik A maupun C, tapi sampai sekarang tak juga kulakukan, dengan dalih, ahhh..bikin SIM kan mahal. Ngabisin duit aja.
Lagian di Jakarta juga jarang ada razia kok, untuk kesekian kali Aku menggampangkan masalah.
Sudah tak terhitung berapa kali Ibu juga mengingatkanku untuk menjaga dan menitipkan helm motor di tempat yang aman.
Helm mu kuwi regane larang.., Kata Ibu. 
Mbok ojo ngeyel tho, dikandhani wong tuwo kok tetep ngeyel.. 
Aku memang ngeyel, dari lima orang buah hatinya, mungkin aku salah satu anak yang paling ngeyel di keluarga.
Dan hari ini akhirnya kejadian.
Saat kuputuskan untuk pulang cepat dari kantor, sampai di parkiran tak kulihat helm full face yang sudah hampir satu tahun ini menemaniku pergi.
Ahh..perasaan ini sudah tak enak.
Benar saja, sesampainya di motor tak kulihat helm hitam bercorak garis-garis yang kubeli dulu bersama Ibu. 
Beberapa menit kuputari parkiran, siapa tahu helm itu jatuh dan tergeletak di bawah. Fiuhh..sampai sepuluh menit tak kutemukan juga helm balapan itu.
Okay, helm-nya hilang.
Beberapa petugas parkir sempat ku interogasi bahkan sempat kumarahi, mulanya aku hanya bertanya, tapi seorang petugas sempat nyeletuk, Mas orang baru ya?
“Woi, gue dah tiga tahun kerja disini dan tiap hari parkir langganan..,emang gue anak kemaren sore.. !!”, emosiku memuncak.
“Iya pak, maaf maaf..tapi kami tidak bisa mengganti, karena itu peraturan disini,” Kata petugas parkir yang katanya seharian memonitor.
Whhuff…
Sambil berjalan gontai, aku kembali ke kantor dan berharap ada helm lapangan yang masih tertinggal.
Dalam kepala ini masih teringat wejangan ibu untuk membawa masuk helm itu ke kantor atau dititipkan. Tapi kengeyelanku ini masih saja aku pelihara.
Menyesal?
Terlambat, lha wong sudah hilang, mau diapain.
Teringat juga kalau beberapa bulan lalu, ada seorang kawan yang bilang, “helm kau mending kau bawa saja, itu helm bagus, udah banyak kejadian kehilangan helm disini”.
Akhirnya kuputuskan pergi ke Plasa Semanggi mencari helm baru, sambil terengah –engah menghadapi angkot dan macetnya jalan Gatsu.
Sampai kantor sambil berkeringat dan menghela nafas, kurebahkan badan ini ke kursi sambil kubuka layar computer di kantor.

You have one message

Please collect your petty cash..

                                                                                                                                           Bejlt.21 07.03pm